Tentang Menyukai Seseorang

Belakangan aku bertanya-tanya, mengapa aku begitu mudah menyukai seseorang? Sebenarnya bagiku tidak masalah karena aku percaya dengan perasaanku. Aku percaya dengan yang namanya cinta pada pandangan pertama. Ups, tidak. Aku hanya percaya dengan orang yang percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama. Salah satu orang itu adalah Khalil Gibran. Aku pernah membaca kata-katanya yang berhubungan dengan cinta pada pandangan pertama yaitu, “Jika tunas tidak tumbuh dalam semalam, jadi bagaimana dia akan tumbuh menjadi sepohon kayu yang berusia ratusan tahun?” Begitu juga cinta menurutku. Jika dia tidak hadir ketika pertama kali bertemu, bagaimana dia akan bertahan melewati perjalanan waktu?

Nah, yang menjadi masalah adalah ketika aku menyukai seseorang yang tidak menyukaiku (selalu seperti ini biasanya). Aku biasanya menjadi tidak bersemangat. Keinginanku pada saat seperti itu cuma satu, yaitu tidur sepanjang hari dan tidak melakukan apapun.

Today I don’t feel like doing anything
I just wanna lay in my bed
—Bruno Mars, The Lazy Song

Karena hanya tidur di sepanjang hari, biasanya jika malam menjelang, aku dapat terbangun hingga dini hari (sudah seperti kalong). Teman-teman menyebutnya “galau tingkat dewa.” Akibatnya ada pekerjaan-pekerjaan lain yang harusnya dapat diselesaikan, tidak jadi terselesaikan. Nah, berikut adalah pendapat dari teman-teman mengapa aku begitu mudah menyukai seseorang:

  1. Aku menyukai seseorang karena aku berorientasi pada kecantikan fisik. Pendapat ini dikemukan oleh teman kkn yang juga menolakku. Karena aku hanya berorientasi pada kecantikan fisik, rasa itu mudah datang dan dia juga akan dengan mudahnya pergi. Dia tidak percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama. Menurutnya, rasa suka itu datang setelah kita mengetahui latar belakang seseorang, cara pandangnya terhadap hidup dan kehidupan dan bagaimana dia merencanakan masa depan. Hidup tidak hanya berhenti di sini.
  2. Aku begitu mudah menyukai seseorang karena aku belum menemukan seseorang yang benar-benar aku sukai. Pendapat ini dikemukakan oleh Maulani Husna, teman sekelasku. Jika aku telah menemukan seseorang yang benar-benar aku sukai, maka aku tidak akan lagi mudah menyukai seseorang. Dia menasehatiku seperti ini, “Teruslah berjalan. Suatu saat kamu akan menemukan orang yang benar-benar kamu sukai. Tidak ada gunanya patah hati.”
  3. Aku menyukai seseorang karena aku tidak membedakan antara menyukai dengan mengagumi. Widya Jayanti yang mengemukakan pendapat ini. Dia berkata bahwa aku hanya mudah mengagumi seseorang, tetapi aku menganggapnya sebagai rasa suka.

Begitulah pendapat mereka. Mungkin mereka benar dari sudut pandang mereka. Aku selalu merasa bahwa apapun yang aku rasakan kepada mereka yang telah menolakku, adalah nyata, tidak hanya perasaan semu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s